simpan rahasia sahabat atau menyelamatkan keperawanannya?
March 26th, 2008 by muftiku110308
Selasa yang tenang sungguh menyenangkan, tapi tiba2
tele mendering tiba2 di siang bolong ketika mataku sedikit demi sedikit
mengajakku pergi ke alam mimpi. Agak takut dan males mau
ngangkatnya caller id 021-720 sekian2 aku pikir klien yang minta fotonya segera
jadi buru-buru, eh ternyata bukan! Syukur alhamdulillah..
Begini
critanya saudara-saudari, diriku ditelepon sama wanita yang menamakan dirinya
W, si we ini menelpon diriku menggunakan telepon selular cdma-nya, berawal dari
basa-basi ngobrol sana-sini beranjak ke pembicaraan yang sedikit serius,
beberapa menit kemudian baru pembicaraan ini diriku anggap serius.
Begini
critanya saudara-saudariku, dari W ini mari kita namakan siwe, anggap aja itu
namanya. Kebetulan diriku punya temen namanya sige. Mirip ya? Nah, sebelumnya
siwe ini pernah berpacaran dengan orang yang pernah deket sama diriku. Diriku
pun ngga tau klo siwe ini pernah pacaran sama pria kebangsaan amrikihe ini.
Mari kita namakan sosok pria ini Sige, tak apa lah namanya mirip sama teman
diriku.
Begini
critanya saudara-saudariku, hehe. Ini cerita serius bukan kategori cerita
leluchon. Siwe ini berpacaran lagi sama sige. Istilah kerennya kambek deh gitu
ato re-pacaran. Siwe tahu bahwa diriku bahwa aku berteman dekat dengan sige.
Nah, dari situ siwe pingin tau siapa dan bagaimana jatidiri aslinya sige
sebenarnya, udah asli pake sebenarnya lagi, gimana gak serius tuh?
Begini
critanya saudara-saudariku, hihihi. Diriku tidak mau membuka aib seorang
sahabat sebegitu mudahnya. Diriku juga masih punya etika, bukankah mengumbar
gosip itu tidak baik? Maka dari itu diriku berkata jujur pada siwe bahwa diriku
tidak dapat memberi bagaimana sepak terjangnya sige ini. Siwe merasa diriku
berada dipihak pada sige, hal ini mungkin siwe anggap wajar. Tapi, diriku
sebagai manusia yg berprikemanusiaan sebenarnya ingin memberi tahunya bahwa
sige ini adalah pkkp (penjahat kelamin kerah putih). Namun berhubung adanya
etika yang tertanam dihati diriku maka diurungkanlah niat untuk membuka kedok
siwe ini.
Baiklah
sudara-sudari, disini diriku berada ditengah kebimbangan hatinya sendiri.
Sungguh sangat dilema bukan? Di enam, di tujuh ato di lapan terserah anda.
Menurut diriku ini sungguh sangat dilema.
Baiklah
sudara-sudari, manakah yang harus diutamakan? Sebagai manusia yang Islam diriku
sebaiknya mengatakan kepada siwe bahwa siwe adalah korban pemerkosaan sige
berikutnya. Cara ini dilakakun dengan sangat rapi sekali. Pertama-tama sige
mengatakan cintanya pada korban dengan maksud hendak berpacaran, agar hubungan
bisa menjadi lebih dekat. Setelah itu aksi yang kedua mereka bercinta dengan
prinsip S3, suk sams suk. Klo udah gitu kan aksinya udah anstapabel (tidak
terhentikan). Sebenarnya aksi ini bisa dicegah apabila wanita tersebut seperti
siwe ini memiliki personal approach yang sangat kuat. Berani menolak seperti
slogan “say no to drug” sudah bisa mencegah tindakan berbahaya terseut, tapi
sayang sekali banyak wanita yang memiliki motto “say no to drug, say yas for
sex”. Sama aja boong! Hal inilah yang sedang dialami oleh siwe.
Tapi… ada
tapinya sudara-sudari, tapi apabila diriku menceritakan hal tersebut pada siwe,
siwe pun tak mau tahu karena siwe sedang on-fire dengan sige, asmaranya sedang
membakar dirinya. Dan apabila hal ini diketahui sige maka sebuah persahabatan
yang mereka jalin akan putus dan kandas. Diriku tak mau hal itu terjadi. Itulah
yang membuat hatinya diriku menjadi bimbang sudara-sudari…
Baiklah sudara-sudari. Apa yang dialami siwe ini
mungkin dapat menimpa wanita-wanita yang kita sayangi, dan hal ini pun sudah
menimpa wanita yang diriku cintai hingga saat ini.
Cerita ini akan berakhir indah apabila sudaraku
berpikir masalah ini bisa diselesaikan dengan indah pula. Pun cerita ini dapat
berakhir tragis apabila sudaraku berpikir masalah ini dapat diselesaikan atas
bantuan yang telah dinegosiasikan dengan iblis.
